Opini Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026
Oleh: Ali Efendi, S.Pd., M.M. (Direktur LPFDT)

Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kontribusi santri dalam membangun bangsa melalui pendidikan, perjuangan, dan pengabdian. Dalam konteks pendidikan modern, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana nilai-nilai kesantrian dapat dihidupkan di sekolah Islam modern yang tidak berbentuk pesantren? Pertanyaan ini relevan karena pendidikan Islam tidak hanya berlangsung di pesantren, tetapi juga di SD Islam, SMP Islam, SMA Islam, dan sekolah-sekolah Islam modern.
Namun, dalam konteks pendidikan kontemporer, terdapat pertanyaan penting: bagaimana nilai-nilai kesantrian dapat dihidupkan dalam sekolah Islam modern yang tidak berbentuk pesantren? Pertanyaan ini relevan karena pendidikan Islam di Indonesia berkembang dalam beragam bentuk kelembagaan, mulai dari pesantren, madrasah, hingga sekolah Islam terpadu dan sekolah Islam modern. Masing-masing memiliki karakteristik berbeda, tetapi dapat dipersatukan oleh cita-cita membentuk manusia beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Santri dan Hakikat Pendidikan Islam
Secara historis, santri identik dengan murid yang menuntut ilmu di pesantren di bawah bimbingan kiai atau ustadz. Kehidupan pesantren membentuk karakter melalui pengkajian ilmu agama, pembiasaan ibadah, keteladanan guru, kedisiplinan, dan kehidupan bersama. Akan tetapi, nilai substantif kesantrian tidak semestinya dibatasi oleh tempat belajar atau keberadaan asrama. Nilai tersebut juga tercermin dalam kecintaan terhadap ilmu, penghormatan terhadap guru, kesungguhan beribadah, kemuliaan akhlak, dan pengabdian kepada sesama.
Al-Qur’an dalam QS. Al-Mujadilah [58]:11
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْ ۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
menjelaskan bahwa “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. Sementara itu, QS. At-Taubah [9]: 122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةً ۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ
Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?
Hal ini menegaskan pentingnya sekelompok orang memperdalam pengetahuan agama (tafaqquh fiddin) agar dapat memberikan pengajaran kepada masyarakat. Kedua ayat ini memberikan landasan bahwa pendidikan Islam harus menghasilkan manusia yang memiliki kedalaman pengetahuan sekaligus tanggung jawab untuk mengamalkannya.
Dengan demikian, sekolah Islam modern tidak harus mengubah dirinya menjadi sekolah pesantren untuk mengembangkan karakter kesantrian. Sekolah dapat mengadaptasi nilai-nilai pendidikan pesantren sesuai dengan karakteristik murid, sistem pembelajaran, dan lingkungan kelembagaannya. Yang perlu diwarisi bukan semata-mata bentuk fisik pesantren, melainkan semangat keilmuan, adab, keteladanan, kedisiplinan, dan pengabdian.
Menyatukan Iman, Ilmu, dan Akhlak
Tantangan pendidikan modern adalah kecenderungan mengukur keberhasilan terutama melalui prestasi akademik. Nilai ujian, kemampuan bahasa asing, penguasaan teknologi, dan keberhasilan masuk sekolah unggulan memang penting. Namun, semua itu belum cukup apabila tidak disertai kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kematangan spiritual.
- Al-Baqarah [2]: 129
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
menggambarkan doa Nabi Ibrahim agar diutus seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan kitab dan hikmah, serta menyucikan manusia. Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan dalam perspektif Islam tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembinaan jiwa dan karakter.
Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (HR. Ahmad, Al-Musnad, dalam riwayat tentang penyempurnaan akhlak). Pesan kenabian ini menempatkan akhlak sebagai orientasi mendasar dalam kehidupan seorang Muslim. Pendidikan Islam yang unggul karenanya harus menyatukan kompetensi akademik, kesalehan spiritual, dan kematangan sosial.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din membahas keutamaan ilmu, adab, dan penyucian jiwa. Pemikirannya memberikan pelajaran bahwa ilmu tidak cukup menjadi alat untuk memperoleh kedudukan atau pengakuan sosial. Ilmu semestinya membimbing manusia mengenali kebenaran, memperbaiki perilaku, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam praktik sekolah, prinsip ini berarti murid tidak cukup mempelajari kejujuran sebagai konsep, tetapi harus membiasakannya dalam ujian dan tugas. Mereka tidak cukup mengetahui pentingnya salat, tetapi perlu dibimbing membangun kesadaran beribadah. Mereka juga tidak cukup mempelajari kepedulian sosial, melainkan harus diberi kesempatan terlibat dalam kegiatan yang menumbuhkan empati dan tanggung jawab.
Sekolah Islam Modern sebagai Ruang Pembentukan Jiwa Santri
Sekolah Islam modern memiliki keunggulan berupa integrasi kurikulum nasional, pengembangan sains dan teknologi, pembelajaran bahasa, kurikulum internasional, serta pemanfaatan inovasi pendidikan. Bahkan beberapa sekolah Islam modern telah menjadi Cambridge International School. Keunggulan ini perlu dipadukan dengan pembentukan karakter Islami agar modernitas tidak kehilangan arah moral.
Pertama, sekolah perlu membangun budaya Islami yang hidup. Salat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, pembiasaan salam, penghormatan terhadap guru, kedisiplinan, kebersihan, dan kepedulian harus menjadi kebiasaan yang dipahami maknanya. Pembiasaan agama jangan berhenti sebagai rutinitas administratif, tetapi diarahkan menjadi kesadaran dan tanggung jawab pribadi.
Kedua, guru harus menjadi teladan. Prinsip pendidikan Ki Hadjar Dewantara, ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, menegaskan pentingnya keteladanan, pendampingan, dan pemberian dorongan. Dalam pendidikan Islam, guru bukan hanya penyampai materi, melainkan pendidik yang memperlihatkan keselarasan antara perkataan dan tindakan.
Ketiga, sekolah perlu mengintegrasikan nilai Islam dalam pembelajaran umum. Sains dapat mengembangkan rasa ingin tahu terhadap alam ciptaan Allah, teknologi dapat diarahkan untuk kemaslahatan, dan pembelajaran sosial dapat menumbuhkan keadilan serta kepedulian. Integrasi ini tidak berarti memaksakan dalil agama ke setiap materi pelajaran, melainkan membangun hubungan yang bertanggung jawab antara ilmu pengetahuan, etika, dan kehidupan.
Keempat, sekolah perlu mengembangkan kepemimpinan, kemandirian, literasi digital, dan kewirausahaan yang beretika. Generasi berjiwa santri pada era modern harus mampu berpikir kritis, memverifikasi informasi, menghormati perbedaan, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Kolaborasi Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat
Sekolah Islam nonpesantren memiliki tantangan tersendiri karena waktu interaksi guru dan murid terbatas pada kegiatan pembelajaran serta aktivitas sekolah. Oleh sebab itu, pendidikan karakter membutuhkan kemitraan yang kuat dengan keluarga dan masyarakat.
Orang tua perlu dilibatkan dalam pembiasaan ibadah, pengawasan penggunaan gawai, pengembangan kemandirian, dan pembentukan adab. Sekolah dapat menyediakan komunikasi berkala, program pengasuhan, pendampingan perkembangan murid, serta kegiatan sosial yang melibatkan keluarga.
Pembinaan juga harus dilakukan secara manusiawi. Kesalahan murid perlu ditangani dengan tegas, tetapi tetap mendidik. Hukuman yang mempermalukan anak tidak seharusnya menggantikan dialog, keteladanan, dan upaya membangun tanggung jawab. Tujuan akhirnya bukan sekadar kepatuhan di hadapan guru, melainkan tumbuhnya kesadaran berbuat baik meskipun tidak diawasi.
Dari Jiwa Santri Menuju Indonesia Emas
Hari Santri Nasional 2026 seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara tradisi pesantren dan inovasi pendidikan modern. Pesantren memiliki kekhasan dalam pembinaan melalui kehidupan berasrama dan tradisi keilmuan, sedangkan sekolah Islam modern memiliki peluang mengembangkan kompetensi akademik dan teknologi dengan tetap berpijak pada nilai agama.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat saling belajar dalam membangun pendidikan yang mengintegrasikan iman, ilmu, akhlak, dan pengabdian. Keberhasilan pendidikan Islam tidak cukup diukur dari banyaknya murid yang meraih prestasi akademik, tetapi juga dari lahirnya generasi yang jujur, mandiri, santun, kritis, toleran, dan mampu memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.
Pada akhirnya, jiwa santri bukan sekadar identitas kelembagaan, melainkan semangat menuntut ilmu, menjaga adab, mengamalkan agama, dan mengabdi kepada bangsa. Sekolah Islam modern yang tidak berbentuk pesantren tetap dapat menjadi ruang tumbuhnya generasi berjiwa santri apabila menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai fondasi budaya sekolah dan seluruh proses pembelajaran.
Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026. Mari menghidupkan jiwa santri di setiap ruang pendidikan Islam, merawat tradisi keilmuan, memperkuat karakter, dan mendorong inovasi. Sebab, Indonesia Emas tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas dan berdaya saing, tetapi juga manusia beriman, berilmu, beradab, dan berkomitmen membangun kemaslahatan bersama.
Referensi
- Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah [2]: 129; QS. At-Taubah [9]: 122; dan QS. Al-Mujadilah [58]: 11.
- Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad. Riwayat mengenai penyempurnaan kemuliaan akhlak; penomoran hadis dapat berbeda menurut edisi.
- Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Pembahasan mengenai keutamaan ilmu, adab, dan penyucian jiwa.
- Dewantara, Ki Hadjar. Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Murid.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. (2026). Panduan Pelaksanaan Peringatan Hari Santri 2026, Surat Edaran Menteri Agama Nomor 6 Tahun 2026.

