Halaman SD Al Falah Darussalam mendadak berubah menjadi panggung mini Nusantara pada Jumat pagi, 22 Mei 2026. Alunan musik daerah dan warna-warni pakaian adat menghiasi kegiatan Pameran Pembelajaran Kelas 4 yang mengusung tema “Mengenal Keindahan dan Keragaman Budaya Indonesia”.

Acara yang berlangsung tertib dan meriah ini dimulai tepat pukul 07.30 hingga 11.00 WIB.

Kemeriahan langsung terasa sejak menit pertama. Acara dibuka dengan penampilan kejutan dari para wali kelas 4A, 4B, 4C, dan 4D. Kompak mengenakan pakaian adat Papua, keempat guru tersebut dengan energik menari tarian dan menyanyikan lagu Sajojo sebagai tanda dibukanya pameran.

guru kelas 4 memakai baju adat Papua sekaligus membuka kegiatan pameran dengan gerakan lagu Sajojo.

Setelah riuh tepuk tangan pembukaan, kendali acara langsung diambil alih oleh pembawa acara yang dibawakan secara percaya diri oleh perwakilan murid kelas 4 yaitu Unai dan Azam. Acara dibuka dengan membaca basmalah bersama-sama saat sambutan kepala sekolah.​”Saya sangat bangga dan mengapresiasi kreativitas luar biasa yang ditunjukkan oleh seluruh siswa kelas 4 beserta para wali kelas dalam pameran budaya hari ini. Melalui kegiatan ini, halaman sekolah kita tidak hanya dipenuhi oleh warna-warni pakaian adat dari Jawa hingga Papua, tetapi juga menjadi ruang belajar yang hidup di mana anak-anak bisa mencintai sekaligus merayakan kebinekaan bangsa Indonesia sejak dini. Terima kasih kepada para guru yang telah membimbing dengan penuh semangat, serta seluruh wali murid yang terus mendukung, sehingga anak-anak kita bisa tampil begitu percaya diri dalam mengenalkan kekayaan Nusantara,” tutur ustadzah Nurul Hikmah S.Ag selaku kepala sekolah SD Al Falah Darussalam.

Dalam pameran ini, para murid dibagi menjadi beberapa kelompok yang mewakili kekayaan budaya dari barat hingga timur Indonesia. Setiap kelompok tampil totalitas mengenakan baju adat sesuai nama kelompok mereka. Ada Batak Melayu, Jawa, Madura, Bali, Bugis dan Asmat.

Mereka mempresentasikan baju adat, asal usul kain ulos, tarian adat, makanan khas dan rumah adat.

Mereka mempresentasikan baju adat, asal usul senjata badik, alat musik kecaping, baju adat Bodo hingga rumah adat Bugis.

Setiap kelompok dengan fasih mempresentasikan kekhasan daerah yang mereka pelajari. Tidak hanya sekadar teori, para murid juga membawa berbagai media kreatif untuk menarik pengunjung, antara lain miniatur rumah adat Bugis, kliping informasi lengkap hasil berselancar di internet mengenai senjata tradisional, makanan khas dan tempat wisata ikonik.

Kegiatan yang berakhir pada pukul 11.00 WIB itu sukses memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi para siswa. Bukan sekadar menghafal dari buku teks, melalui pameran ini anak-anak belajar bertoleransi, bekerja sama, dan bangga akan identitas bangsa Indonesia langsung lewat praktik dan kreativitas.