Di era sekarang, mulai banyak didapati fenomena generasi yang belum memaksimalkan penggunaan teknologi untuk kebermanfaatan dalam hidup. Mengapa demikian? Sebab sebagian generasi terjebak dalam kondisi terlena oleh buaian “tren” yang seharusnya bukan menjadi fokus utama sebagai calon pemimpin masa depan. Tren berjoget, velocity, maupun FOMO (fear of missing out) akan segala budaya asing malah membuat generasi jauh dari konsep calon pemimpin peradaban yang baik. Pun menjauhkan mereka dari kondisi untuk terus meningkatkan ketajaman berpikir sebagai upaya agar tidak terjerat hal-hal yang berkaitan dengan degradasi moral dan kemunduran berpikir.

Jika ini terus terjadi, tentu muncul beragam kekhawatiran bahwa “dunia sedang menuju kekacauan” bila generasi tak segera berbenah. Sebab, dunia masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang sekadar “pintar” menggunakan perangkat, tetapi generasi yang memiliki kedalaman refleksi dan keberanian untuk melakukan perubahan melalui ketajaman berpikir yang mereka miliki.
kKesenjangan antara kecanggihan teknologi dan kedalaman karakter inilah yang menuntut kita untuk menengok kembali pada akar kebijaksanaan. Salah satu upaya untuk mewujudkan karakter yang demikian yakni dengan memadukan konsep Iqro’ dan semangat perjuangan Ibu R.A Kartini.

Memaknai Konsep Iqro’ di Tengah Arus Informasi

Konsep Iqro’ (Bacalah!) bisa dipahami sebagai revolusi mental pertama dalam Islam. Di era digital, urgensi Iqro’ bertransformasi menjadi “bijaknya calon generasi” dalam meningkatkan pemahaman literasi dalam diri. Misal, calon pemimpin masa depan harus memiliki kemampuan untuk dapat membaca data di balik layar dan tidak terjebak dalam permukaan informasi yang dangkal. Artinya, mereka tidak mudah untuk percaya dengan beragam informasi yang ada, tanpa melakukan penggalian informasi (tabayyun) terlebih dahulu. Sehingga calon generasi pemimpin tak gegabah dalam melakukan semua aktivitas, namun selalu berusaha melakukan tindakan yang produktif dalam hidup.

Visi ini bukan sekadar teori, melainkan nafas yang serupa dengan pembelajaran kehidupan Ibu R.A. Kartini. Bagi beliau, kemampuan membaca dan menulis yang beliau miliki adalah cara untuk meruntuhkan tembok ketidakadilan. Sehingga, bisa dipahami bahwa persoalan literasi bukan hanya tentang pengetahuan, tapi berkaitan dengan pemberdayaan pemikiran. Beliau memberikan pandangan (insight) dalam kehidupan sekarang, bahwa dengan bijak dalam berliterasi, seseorang bisa memiliki pikiran yang merdeka meskipun kondisi fisiknya terpingit. Jika dulu Kartini terkurung oleh tembok bangunan, gambaran di era digital sekarang “pingitan” itu berupa echo chamber atau gelembung informasi yang membatasi perspektif generasi.

Selain itu, surat-surat Kartini adalah teladan komunikasi yang elegan namun tajam. Karakter inilah yang perlu ditanamkan dalam diri generasi bahwa “masa depan yang gemilang diraih dengan menggunakan platform digital untuk menyuarakan kemanusiaan dan menebar manfaat, bukan sekadar mengejar popularitas semu”. Kepiawaian Ibu R.A. Kartini dalam berliterasi harus menjadi kompas bagi generasi untuk meningkatkan kedalaman berpikir.

Dengan mengintegrasikan perintah “membaca” yang mendalam dan keberanian spirit Kartini, lahirnya seorang pemimpin masa depan yang mampu menguasai teknologi untuk efisiensi, namun tetap teguh menjaga nilai-nilai moral bukanlah sebuah mimpi utopis, melainkan benih yang sedang ditanam hari ini.

Schedule appointment

admin

Vestibulum ante ipsum

Vestibulum ac diam sit amet quam vehicula elementum sed sit amet dui. Donec rutrum congue leo eget malesuada vestibulum.