Belajar tidak hanya di kelas, siswa kelas 2 SD Al Falah Darussalam Tropodo melakukan kegiatan Outdoor Learning ke Museum De Javasche Bank di Surabaya pada Kamis, 13 November 2025. Kegiatan ini bertujuan agar siswa mengenal transformasi mata uang rupiah dari tahun ke tahun.
Ustadzah Nurul Hikmah, selaku kepala sekolah SD Al Falah Darussalam memberi pesan sebelum berangkat out door learning ke De Javasche Bank. ‘’Anak-anak harus selalu menjaga tata krama selama di De Javasche Bank,” tuturnya. Rombongan out door learning kelas 2 itu menaiki bus menuju Surabaya. Tiba di Lokasi, mereka diterima oleh Kak Yesi Dermha dan Kak Riski Jayanto selaku pengelola De Javasche Bank.
Kak Yesi Derma dan Kak Riski Jayanto memulai sesi dengan memeperkenalkan diri, kemudian menjelaskan bahwa pada tahun 1942 mata uang Indonesia adalah mata uang Gulden. Anak-anak sangat antusias melihat transformasi uang rupiah dari tahun ke tahun. Setelah berkeliling melihat-lihat transformasi uang rupiah, lalu diajak berkeliling untuk melihat mesin penghancur . Mesin ini digunakan untuk menghancurkan uang yang sudah rusak maupun uang yang gagal dalam percetakan.
Kemudian, anak-anak diajak untuk ke tempat menyimpan “emas”. Mereka diajarkan bahwa untuk menyimpan barang berharga seperti emas dan juga uang, harus disimpan di sebuah tempat yang bernama “Brankas”. Anak-anak diberikan kesempatan oleh pemandu secara bergantian untuk memegang replika emas yang ada di ruangan tersebut. Mereka sangat antusias ketika diperbolehkan untuk memegang replika emas seberat 13,5 kg tersebut.
“ Ustadzah, emas nya sangat besar, ini kali pertama aku melihat emas sebesar ini dan bisa memegangnya,” kata Elfredo Raffasya dengan raut wajah ceria.
Setelah memegang emas secara bergantian, kemudian menuju aula yang ada di De Javasche Bank, disini mereka ditemani oleh Kak Wenni sebagai pemateri. Kegiatan dibuka dengan perkenalan. Kak Wenni menyampaikan materi yang bertema “Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah. Kak Wenni menjelaskan bahwa pentingnya untuk menjaga uang. Kemudian menunjukkan 2 lembar uang 10.000 yang masih bagus dan uang 5.000 yang sudah rusak. Lalu meminta anak-anak untuk memilih uang yang akan mereka pilih. Anak-anak pun menjawab uang yang 10.000. “ Mengapa uang 5.000 ini bisa rusak ?,” tanya Kak Wenni.
Kak Wenni menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena adanya proses transaksi dari tangan ke tangan. Kemudian anak-anak diajarkan untuk menyimpan uang di dompet dengan rapi. Kak Wenni juga mengajarkan cara membedakan uang asli dan uang palsu, yaitu dengan cara 3D yaitu: Dilihat, Diraba dan Diterawang. Selain itu anak-anak diberikan pemahaman bagaimana cara yang tepat untuk menjaga uang dengan cara 5J yaitu, Jangan dilipat, jangan dicoret, jangan diremas, jangan distraples dan jangan dibasahi.
Kegiatan ditutup dengan bacaan hamdalah dan penyerahan kenang-kenangan dari Waka Kurikulum, Ustadzah Siti Rohana kepada Kak Wenni selaku pembicara. Tak lupa semua membuat foto bersama dengan anak-anak dan dilanjutkan dengan pengerjaan LKPD tentang apa saja yang sudah mereka pelajari di De Javasche Bank. Kak Weni mengingatkan kembali akan pentingnya belanja bijak dengan cara menabung. Dari lembaran uang, anak-anak belajar tentang nilai, kerja keras, beryukur dan tentang perjalanan bangsa Indonesia. Bijaklah dalam menggunakan uang.


